Minggu, 21 Juli 2013

Hukum Memanggil Jin (Jelangkung)

Written By Islamic Intensive Research on Minggu, 31 Maret 2013 | 3/31/2013

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِيْنَ. قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوْسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ. يَا قَوْمَنَا أَجِيْبُوا دَاعِيَ اللهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ. وَمَنْ لاَ يُجِبْ دَاعِيَ اللهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي اْلأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ
Artinya: “Dan ingatlah ketika Kami hadapkan sekumpulan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur`an. Maka ketika mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: `Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: `Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`an) yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan lepas dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf: 29-32)
ilustrasi; source google.com

Ketika kita hendak membahas tentang jailangkung maka erat sekali hubungannya dengan jin, karena jailangkung bagian dari jin, oleh karena itu pembahasan kita kembali pada jin, yang telah banyak dikupas oleh pengkaji sebelumnya.

Jin…….!
Eksistensi jin memang di akui dalam syariat. Bahkan jin adalah salah satu bentuk bukti wujud nyata dari salah satu kekuasaan Allah yang maha esa, Dewasa ini tema tentang alam ghaib menjadi salah satu komoditi yang memadati berbagai macam media massa. Sayangnya, sebagian oknum masyarakat menyikapinya dengan di bumbui klenik mistis, pemelesetan tentang hakikat jin pun kerap sekali terjadi.

Fenomena alam jin akhir-akhir ini menjadi topik yang ramai diperbincangkan dan hangat di bursa obrolan. Menggugah keinginan banyak orang untuk mengetahui lebih jauh dan menyingkap tabir rahasianya, terlebih ketika mereka banyak disuguhi tayangan-tayangan televisi yang sok berbau alam ghaib. Lebih parah lagi, pembahasan seputar itu tak lepas dari pemahaman mistik yang menyesatkan dan membahayakan aqidah. Padahal alam ghaib, jin, dan sebagainya merupakan perkara yang harus diimani keberadaannya dengan benar,

Kajian kita kali ini menitik beratkan pada seputar permasalahan mengundang jailangkung di tinjau dari sisi agama, mengundang jailangkung tidak seperti halnya seseorang mengundang untuk menghadiri pernikahan, memanggil jelangkung memilki ritual khusus dan proses yang berbeda, untuk mengklasifikasi hukum pemanggilan jelangkung bisa kita mengklarifikasikannya melalui proses atau ritual pemanggilan jelangkung itu sendiri, dan ditinjau dari beberapa aspek yang lain, yang akan penulis sertakan dalam makalah ini insya allah.

Semoga dengan kajian rutin yang kita adakan dapat memberikan pengetahuan yang cukup dan pemahaman yang bener seputar permasalahan jin dan turunannya, amin…

Wallahulmustaan…

A. Jelangkung, antara " ADA " dan " TIADA "

Untuk membahas lebih lanjut seputar permasalah jelangkung, penulis ingin menyoal hakikat jelangkung itu sendiri, apakah jelangkung itu ada, betul-betul ada? Atau hanya rekayasa seseorang untuk menakut-nakuti? Atau sekedar asumsi saja? Penulis juga masih bingung dalam hal ini, Bagaimana tidak!!!

Kalau-kalau jelangkung itu memang ada, mengapa yang ramai hanya Indonesia saja? Mengapa di mesir (khususnya) Negara arab pada umumnya tidak pernah kita mendenger makhluq yang demekian itu? Mengapa Negara kita kaya dengan makhluq-makhluq aneh? Dari jelangkung, kuntilanak, babi ngepet, gendrowo, grandong, wewe gombel, tuyul, leyak, sunder bolong, dan masih buanyak lagi jenis-jenis yang lain, yang belum saya keluarkan, cukuplah ini menjadi bukti kekayaan Negara kita dari makhluq-makhluq aneh.

Saudaraku…..!

Coba mulai kita berfikir, ada apa dengan semua ini? Mengapa? Mungkinkah ini berkaitan dengan budaya cultural? Budaya Indonesia yang masih cendrung primitive, yang masih lekat dengan ajaran setanisme, atau pengaruh peninggalan agama hindu dan budha, dan ajaran yang berbau luar dunia (alam ghaib)?

Saya yakin budaya agama hindu dan budha memiliki hubungan yang sangat erat dengan semua ini, lantas budaya itu tanpa kita sadari menjadi tradsi sebagian umat islam, walaupun mereka harus merelakan al-quran mereka kotori, maknanya mereka rubah sesuai dengan kebutahan dan ajaran yang mereka dapati, lantas apa yang harus kita lakukan? Untuk kembali memurnikan aqidah umat islam! Menjauhkan dari kesyirikan, dan ritual-ritual yang tidak disyariatkan.

Dari semua ini penulis menyimpulkan bahwa jelangkung itu ada, betul-betul ada! Seperti hal-nya makhluq-makhluq ghaib yang lainnya,
Karena saya percaya setiap Negara atau suatu tempat pasti memiliki budaya cultural yang berbeda, sesuai dengan kebiasaan warga masyarakat setempat, maka saya percaya jelangkung ada, karena juga merupakan kebiasaan masyarakat bermain2 dengan makhluq ghaib (jelangkung)

Untuk membuktikan eksistensi sesuatu tidak harus dengan pengliatan atau sesuatu yang dapat di sentuh oleh indrawi, bisa saja dengan tanda-tandanya, atau study kasus dari berbagai kasus yang terjadi, atau dari pengalaman seseorang.


B. jelangkung, siapa sih sebenarnya kamu?

Jika kita pernah menyaksikan sinetron yang menggambarkan jelangkung, sedikit banyaknya kita akan tergambar jailangkung itu seperti apa dan bagaimana, jailangkung itu ada yang menampakan wujudnya, ada yang tidak,

Siapa sebenarnya jailangkung? Dalam film yang berjudul jelangkung itu, dia adalah makhluq yang berwujud manusia! Apakah dia adalah manusia yang telah mati? Mungkinkah dia bangkit kembali dengan roh-nya pada wujud yang asli dengan badan yang utuh? Atau semua itu hanya permainan jin?

Masyarakat Indonesia terlalu berlebih-lebihan dalam menyikapi hal-hal yang ghaib, mereka berasumsi bahwa mereka dapat melihat sesuatu yang ghaib (jin). Dalam syariat, yang dimaksud ghaib itu adalah sesuatu yang ada di dalam Al Quran, maupun Hadits, tetapi kita sebagai manusia tidak dapat melihatnya. Di antara yang ghaib adalah surga, neraka, azab kubur, hari kiamat termasuk pula jin. Dan untuk soal ini, kita harus percaya, kita harus mengimani, walaupun kita tidak pernah melihat keberadaan makhluk itu.

Adapun untuk jenis jelangkung, tuyul, gendruwo, kuntilanak, pocong, grandong, adalah penampakan-penampakan dari setan, kalau memang benar-benar itu ada. Dan itu pun bukan berarti Allah menciptakan jelangkun kuntilanak, tuyul, dan sebagainya. Semua itu hanyalah jelmaan, penampakan yang dilakukan setan kepada manusia,

Bagaimana dengan orang yang mengaku melihat penampakan-penampakan?

Sebagai seorang mukmin, ketika berbicara soal keghaiban, terutama yang berkaitan dengan kehidupan jin ini, kita tidak bisa memberi pernyataan kecuali kalau memang hal itu telah disajikan dengan instan dalam Al Quran dan Hadist. Dalam surat Al-A'Raf ayat 27 Allah berfirman:

" hai anak adam, janganlah sekali-kali kamu tertipu oleh syetan, sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalakan dari keduanya pakiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikutnya melihat kmau dari sesuatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka, sesungguhnya kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin bagi orang yang tidak beriman"

Dalam ayat ini dengan tegas dan lugas dijelaskan bahwa kita tidak bisa melihat jin, sementara mereka bisa melihat kita. Itulah kondisi normalnya. Namun, jin diberi keistimewaan oleh Allah untuk bisa menampakkan diri menyerupai apapun, kecuali menyerupai diri Rasulullah. Sekali lagi, ini bukan berarti seseorang itu mampu melihat eksistensi jin, tetapi jin itulah yang akan menampakkan diri. Dan itu beberapa kali terjadi pada jaman Rasulullah. Tetapi kalau mereka tengah berada dalam wujud aslinya, kita sebagai manusia tidak bisa melihat mereka.

Dalam hadist Riwayat Imam Muslim dijelaskan, sewaktu Rasulullah shalat, Ifrit dari golongan jin juga?menampakkan diri, menganggu shalat Rasulullah, kemudian ditangkap oleh Rasulullah. Begitu juga, Abu Hurairah ketika sedang menjaga harta zakat fitrah melihat sosok jin yang tengah menampakkan diri dan mencuri harta zakat itu. Jin ini pun bisa ditangkap oleh Abu Hurairah.

Bagaimana dengan orang yang mengaku punya kemampuan bisa melihat jin?
Ada beberapa kemungkinan:

Pertama, orang yang mengaku itu, berbohong, sekedar mencari sensasi saja, padahal sesungguhnya dia tidak melihat.
Kedua, orang tersebut tengah berada dalam kondisi lemah, dalam artian ketaatan dan imannya sedang berkurang. Jin ingin mempermainkan dia dengan penampakan itu, agar orang yang tengah lemah iman ini salah dalam bersikap.
Ketiga, yang dilihat itu sesungguhnya sekedar halusinasi saja. Orang yang jiwanya tidak stabil, misalnya, mudah melihat sesuatu tidak seperti hakekatnya. Melihat daun bergoyang saja, dikira orang melambai-lambai.
Keempat, orang tersebut memang mempunyai ilmu sihir, yang berarti dia memang berkolaborasi dengan setan, dengan ritual-ritual yang menyimpang dari syariat Islam, hingga bisa berkomunikasi atau melihat keberadaan setan.

C. Memanggil jin (jelangkung) dalam pandangan syariat.

Di muka, sedikit (karena pembahasan tentang jin sangat luas) Telah saya gambarkan seputar permasalahan jin, dan hakikat eksistensi jelangkung, Bahwa jelangkung adalah jin atau setan yang menjelma dalam wujud makhluq, dunia jin adalah permasalah ghaibiah yang tak dapat disentuh oleh indra, namun Allah memberikan keistimewaan kepadanya sehingga dapat menampakan dirinya kepada manusia,

Sebetulnya kita diciptakan oleh Allah di alam masing-masing. Kita mempunyai alam sendiri, mereka mempunyai alam sendiri. Kita tidak ada urusan dengan kehidupan mereka, karena memang kita tidak diperintahkan oleh Allah untuk berinteraksi dengan mereka.

Sebagian dari masyarakat ada yang suka bermain-main dengan jailangkung yaitu dengan cara memanggilnya, dengan misi tertentu. Baik itu hanya sekedar Tanya jawab dengan jelangkung, atau mengganggunya. Yang ingin kita bahas kali ini adalah pemanggilan jin atau setan lebih khusus lagi jailangkung,

Perlu kita catat baik-baik bahwa jin atau setan tanpa kita undang mereka pasti akan datang untuk mengganggu manusia, karena tugas setan adalah menjauhkan manusia dari tuhannya, melalaikan ketaatan, dan merusak aqidah umat. Sebelum kita memvonis, bagaiman hukum memanggil jin ini, maka kita terlebih dahulu harus meliahat pada proses atau ritual dalam pemanggilan jin itu sendiri. Dan tujuannya, Untuk apa jin itu didatangkan? Setelah jin itu datang mau apa?

Perlu di ketahui baik-baik, jin tidak pernah membantu manusia dengan Cuma-Cuma (BALASY). Dan harga yang paling diincar adalah aqidah atau sejauhmana orang itu bisa dibawa pada syirik pada Allah, kafir pada Allah. Dalam dunia perdukunan berlaku hukum, semakin kufur seorang dukun kepada Allah, maka
semakin kuatlah daya kekuatan perdukunannya itu. Kenapa? karena akan semakin banyak setan yang membantunya.

D. proses pemanggilan jailangkung.

Proses pemanggilan jailangkung sangat sederhana sekali, dan tidak berbelit-belit, sebagian orang bermain jailangkung dengan boneka atau penggaris, pensil, pen atau alat tulis yang lain, dengan bacaan sederhana, sebagaimana saya kutip dari sebuah filem yang berjudul jailangkung yaitu:

Jailangkung jailangkung datanglah
Disini ada pesta kecil-kecilan
Datang tak di undang
Pergipun tak diantar

Beberapa saat kemuadian jailangkung itu dengan kekuasaan Allah dia akan datang, ada yang berwujud adapula yang hanya sekedar isyarat lewat dari alat yang digunkan itu, Nah saat itulah terjadi dialogue, ta'aruf (barangkali) Tanya jawab segala hal yang ingin di ketahui, termasuk perkara-perkara ghaib, perlu kita amini dengan pasti dan imani dengan kuat bahwa hal yang ghaib adalah otoritas mutlak milik Allah. Makhluq apapun tidak memiliki otoritas sedikitpun tentang alam ghaib, Tidak pula dijelaskan kepada RasulNya kecuali sedikit, sebagaimana yang disinyalir dalam al-quran surat Al-Jinn ayat 26-27, Allah menyatakan,

عالم الغيب فلا يظهر على غيبه أحدا . الا من ارتضى من رسوله .....


Artinya: "Dia-lah Allah yang maha mengetahui hal yang ghaib dan Allah tidak menampakkan yang ghaib kepada seorangpun, kecuali kepada Rasul yang diridhoi-Nya, "

Dari ayat di atas dapat kita pastikan bahwa jin pun tidak mengetahui hal yang ghaib, jin jika seribu berita yang ia bawa hanya satu kebenarannya, selebihnya adalah dusta, maka wahai umat manusia jangan mudah percaya dengan ramalan jin, paranormal dan dukun semua itu mutlak kehendak Allah yang esa dan kuasa atas segala sesuatu.
Masih banyak dalil dari al-quran dan sunnah yang menyatakan kedustaan jin dan setan sebagaiman telah di kaji oleh para asatid sebelumnya,

Maka dari sini jelaslah bahwa perbuatan itu tidak ada dalam tuntunan syariat, bahkan bertentangan keras dengan ajaran islam yang telah dibawa oleh nabi Muhammad SAW. sebaiknya kita hindari dari permainan yang melibatkan jin atau bantuan setan, karena dia juga makhluq hidup yang hidup diluar alam kita, mereka juga butuh ketenangan, ketentraman, seyogyanga mereka hidup aman sebagaimana manusia tanpa ada gangguan dari makhluq lain, dan manusia juga tidak boleh berbuat semena-mena, sesumbar terhadap jin, karena mereka juga bisa marah, atau bahkan menggagngu manusia karena sebab di ganggunya,


Penutup

Sedikitnya pengetahuan saya tentang jailangkung dan minimnya referensi yang saya dapati, membuat saya sempat kebingungan untuk menyelesaikan makalah ini, alhamdulilah dengan sedikit kemampuan dan pengetahuan saya, akhirnya tulisan ini selesai tepat adzan subuh tadi pagi, saya sebagai tolibul 'ilmi juga, disana pasti banyak kekeliruan dan kesalahan, mohon kiranya antum sekalian bersedia membenahi kesalahan itu dan mau membagi pengetahuan tentang seputar permasalahan ini, guna perbaikan makalah ini untuk mendatang, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih dan untaian maaf beribu atas segalanya.



Bahan Bacaan
1. Al-Quran dan terjemahanya
2. Ibnu Qoyyim Al-Jauzi, Ar-Ruh, Daarut Taqwa, Mesir, 2003 M.
3. Wahir Abdus Salam Bali, As-Sorimu Al-Batar At-Tasdi Lissahiroh Al-Asror, Maktabah Taufiqiyah, Cairo-Egypt
4. Muhammad Abduh, Hiwar Sahin Ma'a Jun Muslim Wa Jun Masihi, Maktabah Jazirotul Warod, Masuroh Misr, cet. Pertama, 1999 M.
5. Abi Al-Fala Muhammad 'Izzat Muhammad 'Arif, 'Alij Nafsaka bil Qur'an, Daarul Fadhilah, Al-Qohiroh
6. sebagian merujuk di website : www.salafi. or. id

3 komentar: